Apakah Bahasa Isyarat Universal? Ini Alasan Bahasa Isyarat Berbeda di Setiap Negara!
Jika berbicara mengenai bahasa isyarat, hal pertama yang mungkin terlintas di benak Sahabat LBI adalah sebuah sistem komunikasi universal bagi komunitas Tuli. Namun, tahukah Sahabat LBI bahwa bahasa Isyarat ternyata tidak seragam di seluruh dunia?
Bahasa isyarat tumbuh dan berkembang secara alami di dalam komunitas penggunanya. Bahasa ini bukan sekadar terjemahan dari bahasa lisan ke dalam gerakan tangan, melainkan bahasa yang memiliki kosakata, tata bahasa, serta karakteristik budaya tersendiri. Layaknya bahasa lisan, interaksi sosial, sejarah, dan budaya komunitas Tuli di setiap wilayah turut membentuk bahasa isyarat yang unik. Menariknya, kesamaan bahasa lisan di suatu negara pun tidak menjamin kesamaan bahasa isyaratnya. Amerika Serikat dan Inggris, misalnya, sama-sama menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa lisan, tetapi memiliki bahasa isyarat yang berbeda, yaitu American Sign Language (ASL) dan British Sign Language (BSL). Di Indonesia sendiri, kita mengenal SIBI dan BISINDO, dua bentuk komunikasi isyarat yang memiliki sejarah, karakteristik, dan fungsi yang berbeda.
Lantas, mengapa bahasa isyarat dapat berkembang menjadi begitu beragam? Mari kita telusuri!
Ada Ratusan Bahasa Isyarat di Dunia
Selama ini, masih ada tanggapan bahwa bahasa isyarat merupakan bahasa universal yang dapat dipahami oleh komunitas Tuli di seluruh dunia. Anggapan ini mungkin muncul karena bahasa isyarat sama-sama menggunakan gerakan tangan, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan ruang di sekitar penutur. Padahal, tidak ada satu bahasa isyarat universal yang digunakan oleh seluruh komunitas Tuli di dunia. Bahasa isyarat merupakan bahasa alami yang berkembang di komunitas tertentu, memiliki kosakata, struktur tata bahasa, dan latar belakang budaya yang berbeda di setiap negara. Karena itu, pengguna satu bahasa isyarat belum tentu dapat memahami pengguna bahasa isyarat lainnya.
Merujuk pada data dari World Federation of the Deaf (United Nations, 2025), saat ini terdapat lebih dari 300 bahasa isyarat berbeda yang digunakan oleh komunitas Tuli di berbagai belahan dunia. Bahasa-bahasa tersebut berkembang melalui interaksi antarpengguna serta dipengaruhi oleh sejarah, pendidikan, dan budaya masing-masing komunitas. Salah satu contoh yang paling menarik adalah pada American Sign Language (ASL) di Amerika Serikat dan British Sign Language (BSL) di Inggris. Meskipun kedua negara tersebut sama-sama menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa lisan, ASL dan BSL memiliki struktur kebahasaan yang berbeda.
Perbedaannya bahkan dapat dilihat dari sistem alfabet jari (fingerspelling). ASL menggunakan satu tangan untuk membentuk huruf, sedangkan BSL menggunakan kedua tangan—tangan nondominan bertindak sebagai dasar dan tangan dominan bertindak sebagai pembentuk huruf. Namun, perbedaan tersebut bukan sekadar persoalan bentuk gerakan. ASL dan BSL juga memiliki kosakata dan tata bahasa yang berbeda.
Perbedaan ini berkaitan erat dengan sejarah perkembangan masing-masing komunitas. ASL berkembang dari perpaduan bahasa isyarat yang telah digunakan di Amerika dengan pengaruh bahasa isyarat yang dibawa dari Prancis (LSF) oleh Laurent Clerc dan Thomas Gallaudet pada awal abad ke-19. Pada tahun 1817, keduanya mendirikan sekolah untuk anak Tuli di Hartford, Connecticut, yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan ASL. Sementara itu, BSL berkembang dalam komunitas Tuli di Inggris dan memiliki sejarah yang berbeda. BSL kemudian memiliki hubungan historis dengan bahasa isyarat yang berkembang di Australia dan Selandia Baru, yang dikenal sebagai rumpun BANZSL (British, Australian, and New Zealand Sign Language).
Fakta sejarah tersebut mempertegas bahwa bahasa isyarat memiliki sejarah dan perkembangan yang tidak selalu mengikuti batas-batas bahasa lisan. Fenomena keberagaman bahasa isyarat ini pun tidak hanya terjadi di skala global. Jika kita melirik ke dalam negeri, Indonesia pun memiliki cerita kekhasan yang mirip.
Keunikan Bahasa Isyarat di Indonesia
Keberagaman bahasa isyarat juga dapat kita temukan di Indonesia. Dua bentuk yang paling dikenal adalah Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Meski sama-sama digunakan dalam komunikasi dengan medium visual serta berakar dari bahasa Indonesia, keduanya memiliki latar belakang dan karakteristik yang berbeda.
- Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI)
SIBI merupakan sistem bahasa isyarat yang dibakukan oleh pemerintah pada tahun 1994, melalui keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, untuk mendukung komunitas—khususnya dalam konteks pendidikan bagi peserta didik Tuli. SIBI dirancang untuk menyesuaikan bahasa Indonesia dengan sistem isyarat. Karena itu, penggunaannya mengikuti struktur bahasa Indonesia dan dapat menggunakan unsur seperti awalan dan akhiran. Tujuannya adalah agar pengguna SIBI dapat menguasai kurikulum nasional dan tata bahasa lisan Indonesia secara persis. Sebagai contoh, untuk mengisyaratakan kata “membaca”, pengguna SIBI harus memperagakan isyarat imbuhan “me-” terlebih dahulu sebelum isyarat “baca”. Pendekatan ini membuat SIBI berbeda dari bahasa isyarat alami yang berkembang secara spontan dalam komunitas Tuli. Dalam praktiknya, SIBI banyak digunakan dalam konteks pendidikan formal, khususnya di Sekolah Luar Biasa (SLB).
- Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO)
Berbeda dengan SIBI, BISINDO berkembang secara alami di tengah komunitas Tuli Indonesia dan digunakan dalam interaksi sehari-hari. BISINDO memiliki tata bahasa dan kosakata tersendiri sehingga tidak sekadar menerjemahkan bahasa Indonesia lisan kata demi kata ke dalam gerakan tangan. Misalnya, untuk kata “membaca”, BISINDO memiliki gerakan tubuhnya sendiri seperti seseorang sedang membaca buku tanpa perlu memperagakan imbuhan terlebih dahulu. Bahasa ini juga dapat memiliki variasi antardaerah yang dipengaruhi oleh perkembangan komunitas dan budaya Tuli setempat.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa BISINDO merupakan bahasa yang hidup dan berkembang bersama komunitas penggunanya. Bahkan, variasi regional dalam BISINDO dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, sebagaimana bahasa lisan juga memiliki variasi daerah. Sementara itu, SIBI lebih tepat dipahami sebagai sistem isyarat yang dirancang untuk merepresentasikan bahasa Indonesia, sedangkan BISINDO berkembang sebagai bahasa alami komunitas Tuli. Perbedaan karakteristik inilah yang membuat keduanya tidak dapat begitu saja dianggap sebagai dua versi dari bahasa yang sama.
Bahasa Isyarat Adalah Bahasa yang Hidup
Dari perjalanan ASL dan BSL di tingkat global hingga keberadaan SIBI dan BISINDO di Indonesia, kita dapat melihat bahwa bahasa isyarat bukan sekadar kumpulan gerakan tangan untuk menggantikan bahasa lisan. Bahasa isyarat adalah bahasa yang hidup. Di dalamnya terdapat sejarah, tata bahasa, budaya, serta identitas komunitas yang menggunakannya.
Karena itu, memahami bahasa isyarat juga berarti belajar memahami perspektif dan pengalaman komunitas Tuli. Salah satu langkah sederhana untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif adalah dengan membuka diri untuk mempelajari bahasa dan budaya Tuli secara langsung dari komunitas penggunanya.'
Ingin Belajar Bahasa Isyarat Langsung dengan Teman Tuli? Yuk, Mulai di LBI FIB UI!
Tertarik untuk mendalami keunikan struktur bahasa isyarat secara utuh? Sahabat LBI dapat mempelajari bahasa isyarat di LBI FIB UI dengan pendampingan pengajar Tuli (native signer) yang berpengalaman. Tidak hanya mempelajari kosakata dan keterampilan komunikasi isyarat secara praktis, Sahabat LBI juga dapat mengenal perspektif serta budaya Tuli secara lebih dekat.
Dengan belajar langsung dari penutur bahasa isyarat, proses pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada kemampuan melakukan gerakan tertentu, tetapi juga membantu kita memahami bahwa setiap bahasa memiliki konteks budaya dan komunitas yang membentuknya.
Untuk informasi program dan pendaftaran selengkapnya, Sahabat LBI dapat mengakses laman resmi LBI FIB UI melalui Bahasa Isyarat | Lembaga Bahasa Internasional FIB UI.
Penulis: Aulia Rahmawati (Sastra Indonesia, 2024)
Referensi:
United Nations. (n.d.). International Day of Sign Languages. https://www.un.org/en/observances/sign-languages-day