Bahasa Thailand vs Laos: Perbedaan Aksara, Pengucapan, dan Kosakata yang Unik
Halo, Sahabat LBI!
Pernahkah Sahabat LBI menonton drama Thailand atau film dari Laos, lalu merasa kedua bahasanya terdengar sangat mirip? Jika iya, pendengaran kalian tidak salah! Bahasa Thailand dan bahasa Laos memang berasal dari rumpun yang sama, yaitu Tai-Kadai.
Hubungan keduanya bahkan sering dianalogikan seperti bahasa Indonesia dan bahasa Melayu—serumpun, memiliki banyak kosakata yang mirip, tetapi tetap memiliki perbedaan yang khas. Lalu, apa saja perbedaan unik di antara keduanya? Yuk, kita bahas!
- Saling Paham, tapi Tidak Sepenuhnya Dua Arah
Salah satu fakta menarik adalah tingkat saling pemahaman antara kedua bahasa ini cenderung tidak seimbang. Mayoritas masyarakat Laos cukup mudah memahami bahasa Thailand. Hal ini dipengaruhi oleh kuatnya penetrasi budaya pop Thailand—mulai dari musik, film, hingga siaran televisi—yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Laos.
Sebaliknya, banyak orang Thailand—khususnya dari wilayah Bangkok—justru kesulitan memahami bahasa Laos karena perbedaan ritme dan intonasi. Namun, pengecualian berlaku bagi masyarakat Thailand yang tinggal di wilayah timur laut (Isan). Karena letaknya yang berbatasan, dialek Isan bisa dibilang hampir identik dengan bahasa Laos.
- Aksara: Si Pelestari Sejarah dan Si Praktis
Jika dilihat sekilas, aksara Thailand dan Laos tampak serupa dengan bentuknya yang melengkung. Namun, prinsip di balik sistem penulisannya sangat berbeda. Bahasa Thailand mempertahankan ejaan historis yang mengakar kuat pada bahasa Sansekerta dan Pali. Akibatnya, banyak kata memiliki huruf yang tidak dibaca ketika diucapkan (silent letters), sehingga terlihat kompleks. Sebagai contoh, kata "bulan" dalam bahasa Thailand ditulis จันทร์ (jan). Penulisan ini masih menyertakan karakter tak bersuara (ร์) di akhir kata sebagai sisa dari akar kata Sansekerta aslinya, yaitu "Chandra".
Sebaliknya, bahasa Laos telah mengalami penyederhanaan besar. Sistem penulisannya bersifat fonetik—ditulis sesuai dengan bunyinya. Jika menggunakan contoh kata yang sama, kata "bulan" dalam bahasa Laos ditulis ຈັນ (jan), tanpa menyertakan tambahan huruf yang tidak diperlukan. Hal ini membuat aksara Laos cenderung lebih praktis dan mudah dipelajari, terutama bagi pemula.
- Partikel Kesopanan yang Berbeda
Dalam bahasa Thailand, penggunaan partikel kesopanan sangat penting. Sahabat LBI mungkin sudah familiar dengan kata “khrap” (untuk laki-laki) dan “kha” (untuk perempuan) yang diucapkan di akhir kalimat. Partikel ini sangat esensial dan wajib diucapkan dalam tata krama bahasa Thailand untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.
Di sisi lain, bahasa Laos memiliki sistem yang lebih sederhana dan netral gender. Penutur Laos sering menggunakan kata “jao” (yang secara harfiah berarti "ya") sebagai respons sopan, serta partikel “der” di akhir kalimat untuk memberi nuansa ramah dan hangat dalam percakapan.
- Kosakata Dasar yang Berbeda
Meskipun banyak kosakata yang mirip, ada beberapa kata dasar yang justru sangat berbeda dan dapat membingungkan. Contoh paling mendasar adalah kata "tidak". Dalam bahasa Thailand, kata penolakan ini diucapkan sebagai “mai”, sedangkan dalam bahasa Laos diucapkan sebagai “bo”.
Contoh lainnya adalah kata "sangat" atau "banyak". Jika di Thailand Sahabat LBI mengucapkan “mak” (seperti pada: “khob khun mak” atau “terima kasih banyak”), di Laos kata yang digunakan adalah “lai” (menjadi “khop chai lai”). Perbedaan kecil seperti ini justru menjadi penanda identitas budaya masing-masing bahasa.
Mempelajari bahasa dari rumpun yang sama memang selalu membawa keseruan tersendiri. Di balik kemiripan bunyi, tersimpan sejarah panjang dan adaptasi budaya yang membentuk karakter unik setiap bahasa. Bahasa Thailand dan Laos adalah contoh nyata bahwa kemiripan tidak selalu berarti kesamaan. Justru dari perbedaan itulah kita bisa memahami kekayaan budaya yang lebih luas.
Nah, Sahabat LBI, dari kedua bahasa ini, mana yang lebih menarik untuk kamu pelajari?
Penulis: Adinda Sagita, Sastra Jepang 2023