Beda Bahasa, Beda Cara Sayang? Mengenal Love Language dan 5 Bentuknya
Tahukah Sahabat LBI ada berapa banyak bahasa di dunia?
Kalau yang dimaksud adalah bahasa seperti bahasa Indonesia, Inggris, Korea, Belanda, atau Mandarin, tentu jumlahnya sangat banyak. Ethnologue, salah satu rujukan yang banyak digunakan dalam kajian bahasa, mencatat ribuan bahasa yang digunakan di berbagai belahan dunia. Jumlah tersebut juga dapat berubah seiring perkembangan dan pemutakhiran data bahasa. Namun, pernahkah Sahabat LBI terpikir bahwa di luar ribuan bahasa tersebut, setiap orang seolah-olah juga memiliki “bahasa”nya sendiri? Bukan bahasa untuk menunjukkan asal negara atau untuk berkomunikasi sehari-hari, melainkan “bahasa” yang digunakan seseorang untuk memberi dan menerima kasih sayang atau yang dikenal sebagai love language.
Bayangkan dua orang berbicara menggunakan bahasa yang berbeda. Keduanya mungkin sebenarnya ingin menyampaikan pesan yang sama, tetapi belum tentu memahaminya dengan cara yang sama. Layaknya hal tersebut, kasih sayang pun tidak selalu disampaikan dan dipahami dengan cara yang sama. Seseorang mungkin merasa sudah menunjukkan rasa sayangnya, sementara orang lain belum tentu menangkapnya sebagai bentuk perhatian yang ia butuhkan. Ibarat menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lain, pesan kasih sayang pun bisa mengalami “salah terjemah”, lho, Sahabat LBI!
Sahabat LBI sudah mulai penasaran dengan love language? Mari kita telusuri lebih jauh, mulai dari pengertian hingga lima jenis love language yang paling dikenal, sekaligus melihat apa kata penelitian mengenai konsep ini.
Apa Itu Love Language?
Istilah love language tidak menggunakan kata language dalam pengertian bahasa secara harfiah. Konsep ini dipopulerkan oleh Gary Chapman melalui bukunya, The Five Love Languages, yang pertama kali diterbitkan pada 1992. Dalam bukunya, Chapman menggunakan metafora “bahasa” untuk menjelaskan bahwa setiap orang dapat memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menerima kasih sayang.
Dari sinilah penggunaan istilah love language menjadi masuk akal. Layaknya bahasa yang membantu kita menyampaikan pesan kepada orang lain, kasih sayang pun perlu diungkapkan agar dapat diterima dan dipahami. Secara sederhana, love language dapat dipahami sebagai cara seseorang mengekspresikan kasih sayang atau bentuk perhatian yang dianggap bermakna bagi dirinya.
Konsep ini tidak hanya digunakan untuk menggambarkan hubungan romantis. Bentuk-bentuk perhatian tersebut juga dapat muncul dalam hubungan keluarga maupun persahabatan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa sangat sederhana. Misalnya, ibu yang memasakkan makanan favorit saat Sahabat LBI pulang ke rumah, teman yang memberikan hadiah saat ulang tahun, atau pasangan yang kerap mengirimkan pesan-pesan manis. Hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi cara seseorang menunjukkan perhatian dan kasih sayang.
Chapman mengelompokkan bentuk-bentuk tersebut ke dalam lima kategori yang paling dikenal, yaitu words of affirmation, quality time, receiving gifts, acts of service, dan physical touch.
- Words of Affirmation
Words of affirmation (WoA) adalah bentuk kasih sayang yang diekspresikan melalui kata-kata positif, apresiasi, dukungan, pujian, maupun ungkapan verbal lainnya. Bagi orang yang menghargai afirmasi verbal, kalimat sederhana seperti “Aku selalu bangga melihatmu menggapai segala hal yang selama ini kamu usahakan,” “Kamu hebat,” “Kamu selalu cantik setiap hari,” bahkan sekadar “Hati-hati di jalan” atau “Jangan lupa makan” dapat terasa sangat berarti.
Tidak harus selalu berupa kalimat panjang atau romantis. Kadang-kadang, satu pesan singkat yang datang pada waktu yang tepat sudah cukup membuat seseorang merasa diperhatikan, dihargai, dan didukung. Jadi, bagi mereka yang merasa bahwa words of affirmation bermakna, kata-kata bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan salah satu cara untuk menyampaikan perhatian.
- Quality Time
Quality time adalah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan melalui waktu bersama dan perhatian yang diberikan secara penuh. Bagi orang yang menghargai quality time, sekadar berada di tempat yang sama belum tentu cukup. Hal yang terasa lebih bermakna justru ketika seseorang benar-benar meluangkan waktu, hadir, dan memberikan perhatiannya tanpa terbagi.
Bentuknya tidak harus selalu berupa kencan mewah atau pergi berlibur. Makan bersama sambil berbincang, berjalan sore, mengerjakan tugas bersama, atau sekadar mendengarkan cerita tanpa sibuk mengecek ponsel juga dapat menjadi bentuk perhatian yang berkesan. Dalam quality time, yang penting bukan hanya berapa lama waktu yang dihabiskan bersama, tetapi bagaimana seseorang benar-benar hadir dan memberikan perhatian selama waktu tersebut.
- Receiving Gifts
Receiving gifts adalah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan melalui pemberian hadiah sebagai simbol perhatian. Eits, jangan buru-buru menganggap orang yang menghargai receiving gifts sebagai pribadi yang materialistis, lho, Sahabat LBI! Dalam konsep ini, harga atau kemewahan hadiah bukanlah hal utama. Justru, makna dan perhatian di balik pemberian tersebut yang membuatnya terasa istimewa.
Tindakan seperti membawakan camilan favorit sepulang kerja, memberikan oleh-oleh dari perjalanan, membelikan buku yang sudah lama ingin dibaca, atau sekadar membawakan kopi karena tahu seseorang sedang lembur dapat menjadi bentuk perhatian yang berarti. Bagi orang yang menghargai receiving gifts, suatu pemberian dapat menjadi tanda sederhana bahwa seseorang mengingat dan memikirkan mereka. Itulah yang menjadi poin utamanya.
- Acts of Service
Acts of service adalah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan melalui bantuan atau tindakan nyata. Ada orang yang mungkin tidak terlalu sering mengucapkan kata-kata romantis, tetapi selalu sigap memberi perhatian dalam bentuk aksi nyata. Misalnya, berinisiatif mengantar pulang, memasakkan atau menyiapkan makanan, membawakan barang, membantu menyelesaikan pekerjaan, atau merawat seseorang ketika sakit tanpa harus diminta.
Bagi orang yang menghargai acts of service, tindakan nyata dapat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pesan “Aku peduli kepadamu”. Menariknya, bentuk perhatian seperti ini tidak hanya dapat ditemukan dalam hubungan romantis. Bantuan sederhana juga dapat menjadi bagian dari hubungan persahabatan maupun keluarga.
- Physical Touch
Physical touch adalah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan melalui sentuhan atau kontak fisik yang positif. Bagi orang yang nyaman menerima kasih sayang melalui sentuhan, hal sederhana seperti berpegangan tangan, memberikan pelukan hangat, menepuk bahu, atau memijat bahu ketika sedang lelah dapat terasa sangat berarti. Sentuhan tersebut dapat menjadi cara untuk menunjukkan kedekatan, perhatian, dan rasa sayang tanpa harus selalu diungkapkan melalui kata-kata.
Namun, ada satu hal yang tetap penting untuk diperhatikan, yaitu kenyamanan, batasan pribadi, dan persetujuan dari orang yang terlibat. Sentuhan dapat menjadi bentuk kasih sayang selama diberikan dan diterima dengan nyaman serta tetap menghargai batasan masing-masing.
Apakah Kita Harus Memiliki Satu Love Language?
Konsep love language sangat populer hingga saat ini, terutama dalam pembicaraan mengenai hubungan dan komunikasi interpersonal. Sahabat LBI mungkin juga sering mendengar pertanyaan, “Love language kamu apa?” Pertanyaan tersebut seolah-olah mengandaikan bahwa setiap orang memiliki satu love language utama. Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu.
Dalam tinjauan ilmiah yang diterbitkan pada 2024, Impett, Park, dan Muise menemukan bahwa bukti empiris yang tersedia belum memberikan dukungan kuat terhadap tiga asumsi utama konsep love language: bahwa setiap orang memiliki satu love language utama, bahwa ekspresi kasih sayang dapat dibagi secara pasti ke dalam lima kategori, dan bahwa pasangan yang “cocok” dalam love language otomatis memiliki hubungan yang lebih memuaskan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa orang cenderung menganggap kelima bentuk kasih sayang tersebut sama-sama bermakna. Dengan kata lain, seseorang tidak selalu hanya membutuhkan atau menghargai satu bentuk kasih sayang tertentu.
Penelitian lanjutan yang diterbitkan pada 2024 juga menemukan bahwa model lima love language mungkin terlalu sempit untuk menggambarkan berbagai cara manusia mengekspresikan dan menerima kasih sayang. Dalam penelitian tersebut, kurang dari separuh partisipan memiliki satu love language utama yang dapat diidentifikasi secara jelas.
Lalu, apakah itu berarti konsep love language tidak berguna sama sekali? Belum tentu. Konsep ini tetap dapat digunakan sebagai cara yang sederhana untuk memulai percakapan mengenai kebutuhan, perhatian, dan cara seseorang ingin diperlakukan. Hanya saja, akan lebih tepat jika kita tidak menganggapnya sebagai aturan mutlak atau label yang menentukan diri seseorang.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan kita pun dapat berubah sesuai situasi. Pada suatu waktu, Sahabat LBI mungkin membutuhkan dukungan melalui words of affirmation. Di kesempatan lain, quality time, bantuan nyata, hadiah sederhana, atau pelukan justru terasa lebih berarti. Sebab manusia dan kebutuhannya jauh lebih kompleks daripada satu label saja.
Jadi, Sahabat LBI dapat memahami lima konsep love language ini sebagai salah satu cara untuk mengenali dan membicarakan kebutuhan kasih sayang, bukan sebagai aturan pasti mengenai bagaimana setiap orang harus mencintai atau dicintai. Pada akhirnya, mungkin bukan soal mencari satu “bahasa” yang paling tepat, melainkan belajar memahami berbagai cara seseorang mengatakan, “Aku peduli padamu.”
Penulis: Maulida Diva Karamah (Sastra Indonesia, 2024)