Hari Penerjemahan Internasional 30 September: Sejarah dan Maknanya
Apakah Sahabat LBI senang menonton drama Korea atau film internasional dengan subtitle bahasa Indonesia? Atau mungkin membaca novel terjemahan seperti Harry Potter atau The Little Prince? Saat menghadiri konferensi internasional atau menyaksikan pidato pemimpin dunia di berita, Sahabat LBI mungkin juga pernah melihat para juru bahasa menerjemahkan pembicaraan secara langsung.
Tanpa kita sadari, penerjemahan dan penjurubahasaan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Melalui subtitle, buku terjemahan, dokumen hukum, karya ilmiah, hingga penjurubahasaan dalam konferensi internasional, para profesional bahasa membantu kita memahami informasi, gagasan, dan budaya dari berbagai belahan dunia meskipun kita tidak menguasai bahasanya. Menariknya, terdapat satu hari khusus untuk memberikan apresiasi terhadap profesi ini. Setiap 30 September, dunia memperingati Hari Penerjemahan Internasional (International Translation Day).
Namun, mengapa tanggal 30 September yang dipilih? Apa kaitannya dengan seorang penerjemah Alkitab dari abad ke-4? Dan bagaimana peringatan yang awalnya berkaitan dengan tradisi St. Jerome ini kemudian menjadi hari yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)? Mari kita telusuri bersama!
Sejarah Hari Penerjemahan Internasional
Hari Penerjemahan Internasional yang diperingati setiap tanggal 30 September merupakan momentum global dalam menghargai peran para profesional bahasa dalam menjembatani perbedaan di seluruh dunia. Perayaan ini bertepatan dengan hari wafat St. Jerome, seorang cendekiawan dan penerjemah Alkitab yang secara tradisional dikenal sebagai pelindung para penerjemah.
St. Jerome hidup pada sekitar abad ke-4 hingga awal abad ke-5 Masehi dan dikenal karena penguasaannya terhadap beberapa bahasa, termasuk Latin, Yunani, dan Ibrani. Salah satu karya terbesarnya adalah merevisi berbagai terjemahan latin Alkitab yang telah beredar dan menerjemahkan bagian-bagian Perjanjian Lama berdasarkan teks Ibrani. Kumpulan hasil revisi dan terjemahan tersebut kemudian dikenal sebagai Vulgata, yang secara bertahap menjadi salah satu teks Alkitab Latin paling berpengaruh dalam tradisi Gereja Barat. Karena kontribusinya yang besar dalam penerjemahan, nama St. Jerome kemudian memiliki hubungan erat dengan profesi penerjemah. St. Jerome wafat pada 30 September 420 M di Betlehem. Tanggal tersebut kemudian menjadi hari yang digunakan komunitas penerjemah untuk mengenang dan menghargai kontribusinya.
Dari Peringatan Profesi hingga Diakui PBB
Tradisi memperingati 30 September sebagai hari yang berkaitan dengan profesi penerjemah telah berlangsung selama beberapa dekade. Fédération Internationale des Traducteurs (FIT) atau Federasi Penerjemah Internasional, yang didirikan pada 1953, turut mendorong peringatan St. Jerome’s Day sebagai momentum untuk memperkenalkan dan menghargai profesi penerjemahan. Pada 1991, FIT menetapkan 30 September sebagai International Translation Day. Sejak saat itu, berbagai organisasi penerjemah dan penjurubahasa di berbagai negara turut memperingatinya sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran para profesional bahasa.
Tonggak penting berikutnya terjadi pada 24 Mei 2017. Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi A/RES/71/288 tentang peran profesional bahasa dalam menghubungkan bangsa-bangsa serta mendorong perdamaian, pemahaman, dan pembangunan. Melalui resolusi tersebut, PBB secara resmi menetapkan 30 September sebagai International Translation Day. Dengan pengakuan tersebut, Hari Penerjemahan Internasional tidak lagi hanya menjadi peringatan yang diinisiasi komunitas profesi, tetapi juga menjadi bagian dari kalender peringatan internasional PBB.
Setiap tahun, FIT menetapkan tema yang menjadi fokus peringatan Hari Penerjemahan Internasional, seperti tema “Translation and Diversity” pada tahun 2017 dan “Translation, Shaping a Future You Can Trust” pada tahun 2025. Untuk 2026, tema yang diangkat adalah “Linguistic Diversity and Language Rights” yang berfokus pada keberagaman dan hak-hak bahasa. Tema Hari Penerjemahan Internasional 2026 mengajak kita melihat penerjemahan bukan hanya sebagai proses memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi sebagai bagian penting dari upaya memastikan setiap orang dapat didengar, dipahami, dan memiliki akses terhadap informasi dalam bahasa yang mereka pahami.
Melalui perjalanan sejarah penerjemah ini, kita dapat melihat transformasi luar biasa dari aktivitas penerjemahan yang mulanya berkembang di lingkungan keagamaan gereja, lalu kini meluas menjadi profesi sekuler yang sangat penting bagi diplomasi, ekonomi, dan kebudayaan modern. Hari Penerjemahan Internasional saat ini tidak lagi sekadar mengapresiasi para penerjemah teks keagamaan, melainkan seluruh profesional bahasa saat ini memberikan kontribusi besar dalam menyatukan masyarakat global.
Menghargai Profesi yang Sering Bekerja di Balik Layar
Meskipun peran penerjemah dan juru bahasa sangat vital dalam menopang kehidupan modern, profesi ini kerap bekerja di balik layar dan kurang mendapatkan apresiasi. Kita mungkin menikmati novel terjemahan yang mengalir tanpa pernah memperhatikan nama penerjemahnya. Kita menonton film dengan subtitle yang terasa natural tanpa mengetahui proses panjang di balik setiap baris teks. Kita juga dapat mengikuti konferensi internasional dalam bahasa asing karena ada juru bahasa yang bekerja secara simultan di balik mikrofon. Padahal, pekerjaan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menguasai dua bahasa. Seorang profesional bahasa perlu memahami konteks, istilah, budaya, gaya komunikasi, serta tujuan dari pesan yang disampaikan.
Hari Penerjemahan Internasional hadir sebagai pengingat penting bahwa para profesional bahasa adalah jembatan tak terlihat yang membuat dunia tetap terhubung. Tanpa dedikasi mereka, diplomasi internasional barangkali akan buntu, penyebaran ilmu pengetahuan akan terhambat di satu bahasa tertentu, serta pertukaran budaya global akan terhenti. Karena itu, Hari Penerjemahan Internasional menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada para penerjemah, juru bahasa, dan profesional bahasa lainnya yang membantu menghubungkan kita dengan dunia.
Mengenal Penerjemahan Lebih Jauh Bersama LBI FIB UI
Tertarik mengikuti jejak para profesional bahasa yang menjembatani komunikasi lintas bahasa dan budaya? Lembaga Bahasa Internasional (LBI) FIB UI hadir untuk membantu Sahabat LBI mengembangkan keterampilan penerjemahan dan penjurubahasaan melalui Program Penerjemahan dan Penjurubahasaan (PPP). Program ini telah hadir sejak 1991 dan menawarkan berbagai pelatihan berkualitas dalam sejumlah bahasa asing, antara lain Inggris, Jepang, Mandarin, Korea, Prancis, Belanda, Jerman, Rusia, dan Arab.
Sahabat LBI dapat mengasah keterampilan melalui program reguler, seperti Kursus Penerjemahan Teks Umum dan Teks Hukum, maupun Kelas Penjurubahasaan untuk mengembangkan kemampuan penjurubahasaan lisan. Tersedia pula berbagai kursus singkat yang lebih spesifik dan praktis, mulai dari Penerjemahan Takarir (Subtitle), Penerjemahan Teks Sastra, hingga Pengenalan Teknologi CAT Tools.
Yuk, kenali lebih jauh dunia penerjemahan dan penjurubahasaan bersama LBI FIB UI! Sahabat LBI dapat melihat informasi program dan jadwal kelas terbaru melalui laman resmi Program Penerjemahan dan Penjurubahasaan LBI FIB UI melalui tautan berikut ini: https://lbifib.ui.ac.id/id/program-penerjemahan-dan-penjurubahasaan.
Penulis: Aulia Rahmawati (Sastra Indonesia, 2024).
Referensi: International Federation of Translators. (n.d.). International Translation Day 2026. https://en.fit-ift.org/international-translation-day-2026/