Mengenal Keigo dalam Bahasa Jepang: Kenapa Tingkatan Bahasanya Berbeda-beda?
Halo, Sahabat LBI!
Pernahkah Sahabat LBI menonton dorama Jepang berlatar perkantoran dan menyadari betapa rumitnya cara para tokohnya berbicara dengan klien atau atasannya? Bahasanya terdengar jauh lebih panjang dan formal dibandingkan bahasa Jepang kasual yang sering muncul dalam anime sekolah. Sistem bahasa formal inilah yang dikenal dengan istilah Keigo.
Bagi para pembelajar bahasa Jepang, Keigo sering dianggap sebagai salah satu materi paling menantang. Hal ini karena Keigo memiliki beberapa tingkatan dengan fungsi yang berbeda. Lalu, sebenarnya mengapa bahasa Jepang memiliki sistem formal yang begitu kompleks? Yuk, kita pahami filosofi sosial di baliknya!
- Semua Berakar dari Konsep Uchi dan Soto
Kunci utama memahami Keigo adalah konsep uchi (kelompok dalam) dan soto (kelompok luar). Dalam budaya Jepang, cara seseorang berbicara sangat dipengaruhi oleh hubungan sosial dengan lawan bicaranya. Tingkatan Keigo digunakan untuk memperjelas posisi sosial tersebut. Bahasa yang digunakan kepada keluarga, teman dekat, atau rekan satu tim (uchi) tentu berbeda dengan bahasa yang digunakan kepada klien, pelanggan, atau tamu perusahaan (soto). Karena itu, masyarakat Jepang sangat memperhatikan pilihan kata agar komunikasi tetap sopan dan harmonis.
- Teineigo: Bentuk Sopan yang Paling Aman
Tingkatan pertama adalah Teineigo (丁寧語), yaitu bentuk bahasa sopan dasar yang ditandai dengan akhiran seperti ~desu dan ~masu. Teineigo digunakan untuk menunjukkan kesopanan secara umum kepada siapa saja, tanpa memandang status sosial. Bentuk ini paling sering dipakai dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika berbicara dengan orang yang baru dikenal atau rekan kerja yang belum terlalu akrab. Karena sifatnya netral dan aman, Teineigo biasanya menjadi bentuk pertama yang dipelajari oleh pembelajar bahasa Jepang.
- Sonkeigo: Menghormati dan "Mengangkat" Lawan Bicara
Tingkatan selanjutnya adalah Sonkeigo (尊敬語), atau bahasa penghormatan. Fungsi utama Sonkeigo adalah "mengangkat" posisi lawan bicara agar terdengar lebih dihormati. Bentuk ini digunakan ketika membicarakan tindakan orang yang memiliki posisi lebih tinggi, seperti atasan, klien, pelanggan, atau tamu penting. Misalnya, kata kerja biasa seperti taberu (makan) dapat berubah menjadi meshiagaru dalam bentuk Sonkeigo. Yang perlu diingat, Sonkeigo tidak digunakan untuk membicarakan diri sendiri. Dalam budaya Jepang, menggunakan bahasa penghormatan untuk diri sendiri dianggap tidak sopan dan terkesan menyombongkan diri.
- Kenjougo: Merendahkan Diri demi Menghormati Orang Lain
Tingkatan terakhir adalah Kenjougo (謙譲語), atau bahasa merendahkan diri (humble language). Berbeda dengan Sonkeigo yang meninggikan lawan bicara, Kenjougo justru digunakan untuk "merendahkan" diri sendiri atau kelompok kita (uchi). Dengan merendahkan posisi diri sendiri, secara tidak langsung kita sedang menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara. Inilah yang membuat Kenjougo terasa unik sekaligus cukup sulit dipahami oleh pembelajar bahasa Jepang. Contohnya, ketika berbicara dengan klien perusahaan (soto), seseorang bahkan harus menggunakan Kenjougo saat menyebut tindakan atasannya sendiri karena sang atasan masih termasuk bagian dari kelompok uchi.
Memahami Keigo memang butuh waktu, latihan, dan kemampuan membaca situasi atau kuuki wo yomu (“membaca suasana”). Namun, di balik kerumitannya, Keigo adalah cerminan betapa pentingnya harmoni sosial, rasa hormat, dan kesadaran posisi dalam budaya Jepang. Sistem bahasa ini bukan sekadar aturan tata bahasa, tetapi juga bagian dari cara masyarakat Jepang menjaga hubungan sosial agar tetap nyaman dan harmonis.
Kalau menurut Sahabat LBI, bagian mana dari Keigo yang paling menantang untuk dipelajari?
Penulis: Adinda Sagita, Sastra Jepang, 2023