11:12:13? Mari Kenali Kemiripan Bahasa Tagalog, Bahasa Melayu, dan Bahasa Indonesia
Pernahkah Sahabat LBI mendengar seseorang berbicara dalam bahasa Tagalog, bahasa Melayu, atau bahasa Indonesia dan merasa beberapa katanya nyaris mirip? Ibarat bertemu sepupu jauh, wajahnya berbeda, tetapi sorot mata atau senyumnya mengingatkan kita pada keluarga sendiri. Seperti 11:12:13, Filipina, Malaysia, dan Indonesia mempunyai kultur yang tidak jauh berbeda dari satu dengan yang lain. Begitu pula dengan bahasa yang digunakan di ketiga negara ini, terdengar sama namun dapat memiliki arti yang berbeda. Walaupun mempunyai jarak geografis yang dekat dan orang tua yang sama, bahasa Austronesia, bahasa Tagalog, bahasa Melayu, dan bahasa Indonesia mempunyai perjalanan sejarah dan pengaruh budaya yang berbeda dan telah membuat ketiganya berkembang menjadi bahasa yang mandiri dan unik jika dibandingkan dengan bahasa yang lainnya.
Jika kita lihat secara historis, 3 bahasa ini tidak serta merta terdengar mirip, namun memang mempunyai nenek moyang yang sama, yaitu bahasa Austronesia. Bahasa Tagalog, bahasa Melayu, dan bahasa Indonesia mempunyai kata-kata yang terdengar mirip, seperti isa/esa/esa yang berbentuk serupa dan mempunyai arti yang sama, yaitu ‘satu’. Kata ‘mata’ bahkan tidak mempunyai perbedaan sama sekali dalam ketiga bahasa tersebut dan tetap mempertahankan makna yang sama, yaitu sebuah organ untuk melihat. Kata-kata dasar seperti ‘langit’ dan ‘hati’ juga menunjukkan akar Austronesia yang kuat. Kemiripan ini adalah bukti keberadaan warisan leluhur bersama yang terjalin ribuan tahun lalu.
Walau mempunyai nenek moyang yang sama dan jarak negara yang berdekatan, sejarah kolonial dan perdagangan membawa perubahan yang sangat signifikan, memperkaya sekaligus membedakan kosakata di antara ketiga bahasa tersebut. Akibat penjajahan yang dilakukan Spanyol selama 300 tahun kepada bangsa Filipina, bahasa Tagalog menyerap berbagai kosakata dari bahasa spanyol dan diadaptasi lebih lanjut. Contoh yang sangat terlihat adalah silya dalam bahasa Tagalog yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti ‘kursi’. Sementara itu, bahasa Melayu dan bahasa Indonesia mempunyai ejaan yang mirip pada kata tersebut, yaitu kerusi dan kursi. Bahasa Indonesia sendiri mempunyai berbagai kata serapan yang diambil dari bahasa Belanda. Salah satu contoh yang terkenal adalah ‘knalpot’ yang berasal dari kata ‘knalpijp kapot’ dan mempunyai arti ‘pipa pembuangan’.
Setelah Filipina, Malaysia, dan Indonesia merdeka, ketiga negara tersebut mengukuhkan bahasa Tagalog, bahasa Melayu, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mereka. Pertama, bahasa Indonesia secara resmi diangkat sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda 1928 dan diperkaya dengan kata-kata serapan yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa internasional. Kedua, bahasa Melayu secara resmi menjadi bahasa nasional Malaysia berdasarkan artikel 152 dalam Perlembagaan Persekutuan Malaysia. Ketiga, bahasa Tagalog menjadi bahasa resmi negara Filipina berdasarkan konstitusi Biak-na-Bato yang diresmikan pada tahun 1897 saat revolusi pertama Filipina.
Jadi, Sahabat LBI, kemiripan ketiga bahasa tersebut bukan hanya karena negara yang menggunakannya hidup bertetangga, tetapi juga merupakan warisan dari nenek moyang yang sama, yaitu bangsa Austronesia. Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merupakan sebuah catatan perjalanan dari suatu bangsa. Jadi tunggu apa lagi? Mari memperkaya pengetahuan kita tentang berbagai bahasa di LBI FIB UI!
Penulis: Zaidan Manaf Mardani (Sastra Inggris, 23)