Mengapa Bahasa Prancis Disebut Bahasa Cinta?
Halo, Sahabat LBI!
Apakah kalian tahu bahwa bahasa Prancis dijuluki sebagai salah satu bahasa paling romantis di dunia? Julukan ini muncul bukan tanpa alasan. Bahasa Prancis sering dianggap lembut, elegan, dan memiliki nada bahasanya sendiri. Ditambah lagi, budaya Prancis yang identik dengan kota Paris, seni, sastra, dan film-film romantis semakin memperkuat citra bahasa ini sebagai simbol cinta.
Dilansir dari laman International Center for Language Studies, citra bahasa Prancis sebagai bahasa dengan kesan romantis sudah terbentuk sejak abad pertengahan, tepatnya di dalam lingkungan bangsawan kerajaan. Pada masa itu, para penyair dan musisi istana—yang dikenal sebagai Troubadour—menciptakan dan melantunkan syair tentang cinta, kerinduan, hingga penghormatan kepada para perempuan bangsawan. Pada awalnya, karya-karya tersebut ditulis dalam bahasa Occitan Kuno lalu berkembang ke bahasa Prancis Kuno, yang menonjolkan nilai ksatria dan idealisme cinta.
Pada masa Renaisans, citra romantis bahasa Prancis semakin menguat karena digunakan sebagai bahasa diplomasi dan karya sastra di Eropa. Pada era pemerintahan Louis XIV, kaum bangsawan sangat mengapresiasi seni, musik, dan teater, sehingga bahasa Prancis semakin dikenal sebagai bahasa yang mencerminkan keanggunan, kehalusan, dan prestise sosial. Selain itu, munculnya karya sastra besar dari penulis ternama seperti Victor Hugo, pengarang Les Miserables dan The Hunchback of Notre Dame, dan Charles Baudelaire dengan karyanya Les Fleurs du Mal, semakin memperkukuh citra bahasa Prancis sebagai bahasa yang romantis.
Selain faktor sejarah dan sastra, daya tarik bahasa Prancis juga muncul dari cara pelafalannya. Mengutip dari laman insight vacations, penutur bahasa Prancis dikenal memiliki intonasi yang lembut dan manis di telinga. Misalnya, sebagian besar konsonan di akhir kata dalam bahasa Prancis tidak diucapkan kecuali bertemu dengan huruf vokal setelahnya, sehingga kata-kata dalam bahasa Prancis terdengar lebih halus. Bunyi konsonannya pun cenderung lembut, seperti huruf L, M, N, dan R yang memiliki kesan lembut, bukan konsonan ‘keras’ seperti pada huruf T, P, atau K.
Hal yang membuat bahasa Prancis semakin istimewa adalah variasi aksennya. Tercatat terdapat 28 aksen berbeda di seluruh wilayah Prancis, namun aksen yang digunakan di Paris adalah yang paling dikenal luas. Aksen Paris memiliki ciri khas suara serak dan bernuansa lembut karena dominasi bunyi huruf vokal di dalam bahasa tersebut. Menariknya, bahasa Prancis memiliki 23 jenis huruf vokal, jauh lebih banyak dibandingkan bahasa Inggris yang hanya memiliki 14 huruf vokal. Ditambah dengan getaran khas pada huruf “R” yang dihasilkan dari bagian belakang tenggorokan, bahasa Prancis pun semakin menegaskan citranya sebagai bahasa yang penuh pesona.
Melihat bagaimana bahasa Prancis terbentuk dari sejarah, budaya, hingga keindahan aksennya, tidak heran jika bahasa ini selalu dikaitkan dengan cinta dan keanggunan. Jadi, bagaimana Sahabat LBI, apakah tertarik untuk mencoba mempelajari bahasa Prancis? Dengan mempelajarinya, kita tidak hanya menambah keterampilan bahasa, tetapi juga sekaligus menyelami keindahan dan nuansa romantis yang membuat bahasa ini begitu istimewa.
Penulis : Widdy Fatimah (Ilmu Sejarah, 2022)