Sejarah Kopi Indonesia: Dari Ethiopia hingga Java yang Mendunia
Apakah Sahabat LBI tahu? Kopi yang sering kita nikmati untuk mengawali pagi ternyata menyimpan sejuta cerita di baliknya. Secara sederhana, bubuk kopi yang kita seduh berasal dari biji tanaman coffea arabica yang telah disangrai dan digiling. Akan tetapi, di balik kenikmatan secangkir kopi, terdapat sejarah panjang yang membawanya menyebar ke seluruh dunia hingga ke Indonesia.
Kisah penemuan kopi yang paling terkenal bermula di Ethiopia. Menurut legenda, seorang penggembala kambing bernama Kaldi menemukan fakta bahwa kambing-kambingnya menjadi lebih energik setelah memakan buah merah dari semak liar. Di Ethiopia, kopi dikenal dengan sebutan bun atau bunn. Dari sana, biji kopi dibawa oleh para pedagang melintasi Laut Merah menuju pelabuhan Mocha di Yaman. Di Yaman, kopi mulai dikenal luas dengan nama qahwa (قهوة), yang berarti “minuman yang mencegah tidur”.
Dari wilayah Arab, kopi kemudian menyebar ke berbagai daerah, termasuk Kekaisaran Turki Ottoman dengan sebutan kahve, lalu menyebar ke dataran Eropa, terutama Italia, khususnya Venesia, dan ke negeri kincir angin, Belanda. Para pedagang Venesia memperkenalkan kopi ke Italia sekitar tahun 1600 dengan nama caffè. Budaya kedai kopi pun berkembang pesat, salah satunya ditandai dengan berdirinya Caffè Florian pada tahun 1720 di Venesia.
Di Belanda, kopi dikenal sebagai koffie, dan dari sinilah kopi akhirnya dibawa ke Nusantara. Pada akhir abad ke-17, Belanda membawa biji dan bibit kopi dari Yaman ke Batavia (sekarang Jakarta). Percobaan pertama penanaman kopi di Kedawung gagal akibat cuaca ekstrim dan banjir yang melanda daerah tersebut. Akan tetapi, para pedagang Belanda tidak berkecil hati dan mencoba lagi membudidayakan kopi di wilayah sekitar Sungai Ciliwung. Percobaan kedua inilah yang membuahkan hasil yang sangat baik. Hasil panen kopi dari Jawa itu kemudian diteliti di Amsterdam dan dinilai memiliki kualitas tinggi. Bibit kopi tersebut lalu diperbanyak dan disebarkan ke berbagai wilayah lain, termasuk ke kebun-kebun di Eropa.
Masyarakat Nusantara kemudian mengadaptasi penyebutan koffie dari bahasa Belanda menjadi “kopi” atau “kupi” dalam berbagai bahasa daerah. Karena pusat produksi kopi berada di Pulau Jawa, dunia internasional pun mengenal istilah Java—bahasa Inggris untuk pulau Jawa—sebagai sebutan untuk kopi, yang populer hingga akhir abad ke-19.
Dari Ethiopia hingga Nusantara, kopi telah menempuh perjalanan panjang melintasi ruang dan waktu. Di balik setiap cangkir kopi yang kita nikmati, tersimpan kisah tentang perdagangan, pertukaran budaya, dan ketekunan manusia. Kini, kopi bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga warisan global yang menyatukan berbagai rasa dalam satu cangkir.
Penulis: Zaidan Manaf Mardani (Sastra Inggris, 2023)